Ulasan Novel Milea Suara dari Dilan karya Pidi Baiq
Jangan pernah baca novel berseri dari seri ketiga! Tidak akan mengerti. Milea Suara dari Dilan (Pastel Books Mizan, 2016) adalah novel ketiga serial Dilan dari Pidi Baiq. Asli tidak akan mengerti kalau langsung baca buku ketiga. Ini novel apaan sih? Cerita seorang anak SMA bernama Dilan. Yang mengaku didatangi Pidi Baiq pada 15 Agustus 2015 karena tertarik menulis novel Suara Dilan. Novel yang akhirnya terbit satu tahun kemudian.
Serial Dilan
Dalam novel 357 halaman ini, Dilan bercerita mengenai banyak kejadian yang diceritakan oleh Milea dalam buku pertama Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1990 (Pastel Books Mizan, 2014) dan buku kedua Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1991 (Pastel Books Mizan, 2015). Kebayangkan betapa tidak kreatifnya penulisnya. Buku pertama dan kedua judulnya hanya berbeda angka 1. Buku ketiga hanya mengubah sudut pandang. Dari sudut pandang Milea pada buku 1 dan 2, menjadi sudut pandang Dilan di buku ketiga.
Nambah kerjaan banget ya. Maunya sih tidak perlu baca 2 buku pertama, tapi dalam novel ketiga ini banyak sekali adegan yang mengacu pada cerita Milea sebelumnya. Jadi agak bingung untuk menangkap ni anak mau ngomong apa sih? Siapa Dilan? Kenapa Milea begitu mencintainya? Kenapa mereka putus? Semua ada di buku satu dan dua. Banyak bagian diberi penjelasan: … seperti sudah Lia (*nama panggilang Milea) jelaskan dalam buku… atau Lia sudah banyak cerita soal dia di buku itu… Alhamdulillah saya punya tetangga sholehah yang bersedia diembat koleksi kedua novel pertama Dilannya. Thanks bu Sri Mega.
Setelah maraton baca ketiga novel karangan lulusan Seni Kriya FSRD ITB kelahiran 8 Agustus 1972 ini, baru lah kita agak mengerti tentang Dilan dan Milea. Buku pertama tentang Milea bercerita bagaimana Dilan mendekatinya dan akhirnya mereka resmi pacaran yang ditandai dengan deklarasi bermaterai (Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990, hal 327).
Proklamasi
Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi berpacaran.
Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya.
Sedangkan buku kedua tentang cerita Milea mengenai hubungan mereka
yang berakhir putus karena Milea tidak mau pacarnya bergabung dengan
geng motor. Padahal Dilan sudah meyakinkan bahwa senakal-nakalnya anak
geng motor, mereka sholat pada waktu praktek ujian agama.Hadeuh!!! Anak muda…
Celoteh Dilan
Dilan memulai cerita di seri ketiga dengan latar belakang keluarganya. Ada cerita tentang bundanya yang ia biasa panggil Bundahara jika ia sedang minta uang atau Sari Bunda ketika ia lapar. Ada cerita tentang Ayahnya yang tentara hingga masa kecilnya. Dan hal-hal lain yang luput dari catatan Milea dalam buku sebelumnya. Ia lah, mana mungkin Milea tahu kalau Dilan perlu minta air doa Al Fatihah dari bundanya sebelum mendekati Milea.Dilan itu sebenarnya pintar dan juara kelas. Tapi ia sempat meragukan arti bahwa G 30 S PKI itu merupakan singkatan dari Gerakan 30 September. Ia kira G-nya ada 30, seperti dalam P3K yang merupakan singkatan dari Pertolongan Pertama Padahal Kedua. Boleh senyum kalau kamu jaim.
Ada juga komentar Dilan saat Milea menyampaikan pendapat Yugo, temannya yang orang Eropa tentang orang Indonesia.
“Iya. Katanya, orang Eropa itu disiplin. Mau sabar buat antri.”
“Iya keren, buang sampah gak sembarangan. Tapi, menjajah.” (hal 151)
Dilan terkadang memang cukup wise. Seperti yang ia tunjukkan dengan tidak ingin mengekang Milea.
Lia memang sudah cerita soal Kang Adi
yang kadang-kadang masih suka nelepon, dan itu sama sekali tidak
masalah bagiku. Aku pacarnya Lia, tetapi aku tidak ingin punya hak untuk
mengontrol dengan siapa dia bicara atau dengan siapa dia berteman. Aku
tidak ingin punya perasaan berkuasa atas dirinya. (hal 153)
Aku pergi mencari tempat duduk
sendiri di halaman Yoghurt Cisangkuy karena merasa tidak ingin
mengganggu Beni yang ingin bicara dengan Lia. Aku pacarnya Lia, dan Beni
hanya mantannya. Apa yang harus aku risaukan jika aku yakin Lia akan
lebih suka kepadaku yang tidak pernah mengekangnya, yang tidak pernah
berkata kasar kepadanya. (hal 163)
Walau setting novel ini adalah kondisi SMA di Bandung tahun 1990,
yang mungkin berbeda dengan masa sekarang, tapi karakter Dilan memang
unik untuk anak-anak masa sekarang. Sangat kreatif cara berpikirnya.
Bisa jadi agak kontradiktif ya. Penulisnya saya nilai tidak kreatif
(alasannya sudah saya sampaikan diatas), tapi ia menuliskan tokoh yang
kreatif, imajinatif, sableng, polos, aneh, dan mudah untuk dicintai.Mungkin kalau dulu – atau bisa dibilang jamannya Dilan SMA, idola remaja itu karakter Lupus-nya Hilman Hariwijaya, karakter Mas Boy-nya Marwan Alkatiri, atau karakter Roy-nya Gola Gong. Nah dalam 2 tahun terakhir ini, sepertinya idola remaja adalah Dilan. Dilan yang pintar, Dilan yang anak geng motor, Dilan yang mencintai dengan cara yang unik. Sosok Dilan dibuat begitu hidup oleh Pidi Baiq dalam novel yang tata bahasa dan plotnya tidak jelas.
Kritik tentang Dilan
Beberapa kepingan cerita sering saya tidak mengerti kenapa harus diselipkan disitu. Seperti cerita tentang laki-laki yang mendatangi Disa adiknya Dilan. Namanya Saka. Tapi Dilan menuduhnya memiliki nama panjang Sang Saka Merah Putih yang harus selalu dihormati. Andaikata bagian tentang Saka dihilangkan, tidak akan berpengaruh apa-apa pada alur cerita.Bisa jadi novel ini tidak nyaman buat dibaca pecinta novel-novel apik rapi seperti karya Dewi Lestari, Andrea Hirata atau Ahmad Fuadi. Tapi daripada mengomeli penulis atau editornya yang payah banget, saya maklumi saja dengan menganggap inilah curahan hati anak SMA yang berusaha ditampilkan sejujurnya.
Walau sebenarnya agak terganggu juga dengan cara menerjemahkan bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia hanya yang menggunakan kata = atau sekedar diberi tanda kurung. Misalnya:
“Geus titah tiheula,” kata Apud ke aku. “Sugan weh leungit,” Artinya: “Udah, suruh duluan aja, kali aja dia hilang.”
“Gancang pisan leumpangna,” jawab Apud. (Cepat sekali jalannya.”)
“Teu boga bujal sigana mah,” jawab Apud. “(kayanya dia itu gak punya pusar.”)
“Kenapa?”
“Kuda pan teu boga bujal, jadi teru capean,” jawab Apud. (“Kuda, kan gak punya pusar, makanya kuda gak pernah capek.”)
(Milea Suara dari Dilan, hal 251)Atau bagian:
“Yang pacaran meuni mesra!” kata Bi Eem tiba-tiba (meni mesra = nampak mesra banget).
( Dilan dia adalah Dilanku tahun 1991, hal 327).Cara penerjemahan yang rasanya tidak akan kita temui dalam novel-novel karya penulis-penulis terkenal lain. Coba saja kita bandingkan dengan cara Ahmad Fuadi menuliskan bahasa daerahnya dalam novel Negeri 5 Menara (Gramedia, 2009).
Pak Etek Muncak dan kenek bersamaan berseru, “Alah kanai lo baliak. Kita kena lagi!” (Negeri 5 Menara, hal 21)
“Ndak ba’a do, sebentar lagi kita sampai!” seru ayah mencoba menenangkan sambil menggamit bahuku. Dalam Negeri 5 Menara – hal 22, yang dilengkapi dengan footnote menunjukkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Saya harus mengakui, saya lebih suka gaya pengungkapan Milea yang apik di buku satu dan dua. Mungkin karena perempuan memang lebih jago mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata. Saya sampai lupa ada yang namanya Pidi Baiq dibalik buku ini. Acung dua jempol buat Pidi Baiq yang bisaan membuat sudut pandang perempuan dalam tulisannya. Dengan sempurna! Tokoh-tokoh ini terasa begitu hidup. Bisa jadi karena sepertinya Dilan adalah Pidi Baiq di masa remajanya.
Merekam Sejarah Bandung 90-an dalam Dilan
Dengan setting setiap pojok Bandung yang benar-benar ada pada masa itu. Orang Bandung pasti mengenal tempat-tempat tersebut. Seperti Bioskop Regent, Toko Yu, BonBin – Kebon Binatang Taman Sari, Taman Centrum, Galael Dago, Yoghurt Cisangkuy, Aquarius Dago, dan banyak lagi. Banyak tempat memang sudah tidak ada sekarang. Tapi ini seperti menjadi catatan sejarah bagi mereka yang memang pernah ada di awal tahun 1990-an dan akan selalu menjadi memori masa muda dulu.Jadi teringat quotesnya Pidi Baiq yang dipajang di bawah jembatan Alun-alun Bandung dan menjadi objek selfie para turis:
“Dan Bandung bagiku bukan masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi BaiqJadi saya pikir niat Pidi Baiq tercapai. Yaitu menjadikan buku Dilan sebagai buku pelajaran eh tepatnya buku yang bisa menjadi pelajaran buat mereka yang membacanya. Pelajaran? Serius? Dilan sendiri sempat tidak mengerti maksud Pidi Baiq ini (baca hal 18). Penjelasan Pidi Baiq begini. Dalam novel Dilan orang bisa belajar taktik menguasai wanita. Seperti ketika Dilan mengomentari Kang Adi yang berusaha mendekati Milea.
Harusnya, Kang Adi tahu jika
benar-benar mencintai dia tidak perlu menjadi seperti orang yang
memiliki kekuatan di atas yang lain. Dia cenderung memuji dirinya
sendiri daripada memuji Lia. Itu sangat menyebalkan. Dan juga harusnya
dia tidak perlu menjadi orang yang ingin dianggap hebat dengan banyak
memberi nasihat.
Menurutku, Lia itu seorang yang harus
dilindungi dari orang yang memperlakukan dia seperti orang bloon yang
tidak tahu apa-apa. Lia itu semacam orang yang ingin dibiarkan menjalani
hidup dengan suasana yang luwes, lancar, dan orisinal. Dikasih sedikit
campuran Rock’nRoll tetapi yang Lillahita’ala. (hal 146)
Bisa juga belajar pelajaran ekonomi tentang bagaimana cara memberi
kado yang murah meriah misalnya dengan memberikan TTS yang sudah diisi.
Bukan karena apa-apa, sekedar karena ia tidak ingin Milea pusing
mengisinya. Juga ada pelajaran olahraganya dibagian berantem sebagai
geng motor. Kan sama-sama melakukan gerakan badan hingga berkeringat.Nih saya tambahkan satu pelajaran lagi Ayah Pidi, pelajaran sejarah dengan mengenang tempat-tempat legendaris Bandung tahun 1990-an yang mungkin semakin lama semakin banyak menghilang dari kota yang diciptakan Tuhan sambil tersenyum ini.
Dilan lucu sih….tapi….
Saya sejujurnya susah ketawa baca novel ini. Humor-humor khas anak FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) yang ya… gitu deh… Tapi akhirnya menyerah menahan jaim setelah baca puisi cinta yang ditulis Dilan untuk pacar barunya Cika.
Cika
Cika, Cikawao. Cika, Cikalong Wetan.
Cika, Cikadut Atas. Cika, Cikarang Selatan. Cika, Cikaso Banjarsari.
Cika, Cikahuripan. Cika, Cikajang Garut. Cika, Cikakak Sukabumi, Cika,
Cikao Purwakarta. Cika, Cikamuning. Cika, Cikampek Pantura. Cika,
Cikander Serang. Cika, Cikapundung Electronic Center. Cika, Cikapayang
Dago. Cika, Cikawung Pandeglang. Cika, Cikawao Motor. Cika ada di
mana-mana. Cika juga di dalam kepalaku. Cika juga di dalam semua
perasaan riangku. (hal 341)
Nggak ada yang bisa bilang bahwa lucunya Dilan sama dengan lucunya
Lupus ciptaan Hilman Hariwijaya, atau Cinta Brontosaurus-nya Raditya
Dika, atau Jomlo-nya Aditya Mulya. Berbeda! Saya tidak bisa bilang lebih
baik atau lebih buruk. Hanya berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar